Penulis: T. Tjahjo Widyasmoro
Titik-titik darah berwarna merah kehitaman mulai muncul di leher
tepat di belakang cuping aktor Henky Tornando. Perlahan-lahan
cairan yang terlihat agak berbuih itu semakin banyak keluar, hingga
hampir memenuhi mangkuk bekam. Meski berdarah-darah begitu, ekspresi
Henky yang tiduran tertelungkup terlihat rileks saja.
Tak sampai 10 menit kemudian mangkuk-mangkuk dilepas. Darah yang
tertinggal di kulit diseka menggunakan kapas. "Rasanya, tubuh
jadi ringan. Pusing dan pegal tidak pernah kumat," kata Henky
yang mulai mengenal bekam sejak dua tahun lalu. Pembawa acara
televisi Ferdi Hasan yang pernah sekali merasakan terapi ini memberi
kesaksian serupa. "Khasiatnya instan, badan langsung terasa enteng."
Henky maupun Ferdi telah meyakini manfaat bekam, sebuah terapi
untuk mengeluarkan "darah kotor" dari tubuh guna mengusir berbagai
keluhan penyakit atau sekadar menjaga kesehatan tubuh. Terapi
tradisional ala Timur Tengah ini sudah populer sejak berabad-abad
lalu, bahkan dianjurkan oleh Nabi Muhammad kepada para pengikutnya.
Sepintas, bekam terdengar menyeramkan, karena berbau-bau "darah".
Padahal kenyataannya tidaklah seseram itu. Bekam mengambil darah
di dermis (kulit jangat) dan bukan pada pembuluh darah. "Jumlahnya
sedikit sekali, seperempat liter saja tidak ada," jelas Ustad
La Ode Aly Abi Ilahy, terapis bekam dari Rumah Sehat Herba Care
di kawasan Tegal Parang, Jakarta Selatan.
Pengambilan darah dilakukan menggunakan alat berbentuk mangkuk
(cupping set) yang ditempelkan pada kulit. Bagian
tubuh yang merupakan titik bekam terlebih dulu "dilukai" memakai
jarum lancet atau bisa juga pisau cukur (silet). Dengan pompa
pengisap, udara di mangkuk kemudian disedot perlahan-lahan. Akibat
perbedaan tekanan udara, kulit akan terangkat dan darah merembes
keluar.