MTB paling tepat
Menurut para pencinta sepeda, apa pun jenis dan merek sepeda,
semua oke-oke saja dijadikan alat transportasi ke tempat kerja.
Mulai dari jenis sepeda BMX, sepeda jengki, sepeda mountain
bike (MTB), atau sepeda balap. Semua sepeda dewasa itu sudah
dirancang agar nyaman dipakai sehari-hari.
Tapi khusus pemakaian di kota-kota besar, seperti Jakarta, ceritanya
sedikit lain. Sepeda yang lincah bermanuver di jalan raya dan
mampu menyelip di antara laju kendaraan bermotor akan lebih menguntungkan.
Maklum, lalu lintas perkotaan yang tidak ramah sering membuat
pesepeda menjadi seperti "warga negara kelas bawah" alias tidak
dipedulikan pengguna jalan lain. Belum lagi harus berhadapan dengan
tantangan seperti aspal berlubang, genangan air, atau banjir.
"Sama seperti bersepeda di alam yang tidak bisa dipastikan kondisinya,
maka di sini diperlukan sepeda jenis mountain bike," jelas
Ozy F. Sjarindra, penggiat B2W yang dua kali seminggu bersepeda
dari kawasan Bintaro ke kantornya di Jln. Sudirman sejauh 17 km.
"Kota kayak Jakarta, dianggap saja sebagai hutan dengan tantangannya."
Di kota-kota yang sudah menyediakan jalur khusus sepeda, seperti
di Cina, Belanda, atau negara-negara maju lain, kata Ozy, semua
jenis sepeda membanjir di jalanan. Umumnya yang dipakai city
bike, sepeda jengki yang memakai sistem transmisi. "Makanya,
pembuatan jalur khusus sepeda di Jakarta juga jadi impian kita
semua di B2W," papar pekerja bidang teknologi informasi yang sempat
merasakan nikmatnya bersepeda semasa berkuliah di Amerika Serikat.
MTB juga punya keunggulan lain, terutama bagi pekerja yang menempuh
perjalanan jauh. Di Jakarta pekerja yang bertempat tinggal di
kawasan perumahan di pinggiran kota, minimal akan menempuh 10
km sekali jalan. Sepeda balap atau road bike sebenarnya
memenuhi syarat ini. Tapi akan merepotkan ketika harus berhadapan
dengan kepadatan lalu lintas. Soalnya, konstruksi sepeda balap
dirancang untuk melaju lurus, sehingga kurang nyaman digunakan
untuk bermanuver.