OKUPASI TAK SEKADAR
CARI SEMBUH
"Come on, Mireille. It's easy. You can
do it. Just stand up for 10 seconds. One, two, three, ... ten.
Yes, you did it!" Anna menyemangati putrinya untuk berdiri
tegak dan seimbang di balance board. Walau terlihat main-main,
occupational therapy sedikit demi sedikit mampu mengatasi
gangguan tumbuh kembang Mireille dan mengembalikan keriangannya
yang nyaris hilang.
Penulis: Christantiowati
Dua tahun terakhir, Mireille (8) memang menjalani terapi okupasi
di bagian rehabilitasi medis terpadu. Di rumah sakit umum, letak
bagian rehabilitasi medis terpadu ini biasanya bersebelahan dengan
bagian fisioterapi dan speech therapy.
Terapi okupasi sendiri itu terapi yang menekankan sensomotorik
dan proses neurologi (saraf), dengan mengolah, melengkapi, dan
memperlakukan lingkungannya begitu rupa, sehingga tercapai peningkatan,
perbaikan dan pemeliharaan kemampuan anak. Tujuannya membantu
tumbuh kembang anak, agar mandiri dalam keseharian, merawat diri,
dan menggunakan waktu luang.
Anak-anak dengan gangguan perkembangan, kesulitan akademis, keterampilan
keseharian dan kemandirian, termasuk attention deficit/hyperactivity
disorder, down syndrome, asperger's syndrome, pervasive developmental
disorder, sensory integration dysfunction, cerebral palsy,
kesulitan belajar, keterlambatan wicara, gangguan proses pendengaran
dan perilaku dapat memanfaatkan terapi ini.
Terapi okupasi harus didukung sarana memadai dan dilakukan oleh
terapis berpendidikan khusus. Di Indonesia, "Baru ada dua lembaga
pendidikan khusus untuk terapis okupasi. Program D3 Studi Terapi
Okupasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di bawah Depdiknas,
dan Akademi Occupational Therapy Surakarta di bawah Depkes," papar
Abraham Setiyono, A.MD.OT, terapis okupasi dari Pusat Terapi Terpadu
Sarana,di Jakarta Selatan.
Itu sebabnya, jumlah terapis okupasi masih sangat minim. "Sampai
saat ini, jumlahnya masih di bawah 1.000 orang, tergabung di Ikatan
Occupational Therapist Indonesia," tambah Abraham, lulusan D3
UI.