E-MAIL
KATA KUNCI


DAFTAR
 
 
SUARA MILIS  |  JAJAK PENDAPAT  |  KONSULTASI |  FORUM |  ARSIP  |  BUKU TAMU  |  REDAKSI
 
majalah
No. 480 TH. XL
JULI 2003
     
MENGENAL KOTA
LEWAT GREEN MAP

Informasi pada sebuah peta kota seperti yang kita kenal saat ini rupanya dipandang kurang mencukupi. Untuk memperkaya informasi di dalamnya, diciptakanlah green map. Uniknya, ide membuat peta hijau itu muncul cuma gara-gara timpukan kerikil seekor orangutan kepada penggagasnya.

Thuk! Wendy Brawer, warga negara AS yang sedang jalan-jalan di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta, tahun 1989, nyaris kena lemparan kerikil. Yang menimpuk bukan siapa-siapa, melainkan seekor orangutan. Alih-alih takut dan marah, justru bunyi timpukan itu melentingkan ilham di kepala Wendy untuk membuat suatu media yang memberi informasi detail soal kondisi suatu wilayah kepada pembacanya. Idenya makin mengental sampai Desember 1991, menjelang Earth Summit di markas besar PBB di New York.

Ia berharap, ratusan peserta konferensi, ahli lingkungan dari seluruh dunia, yang mungkin baru pertama kali atau sekali-kalinya ke New York, bisa ikut merasakan perkembangan lingkungan New York melalui media yang digagasnya. Media itu bisa memberi tahu "di mana kita sekarang" serta bisa menjawab pertanyaan "ke mana kita dapat pergi" dengan beberapa pilihan. Dari media tadi juga bisa ditunjukkan jalur jalan, tempat-tempat menyenangkan dan bermanfaat. Sebaliknya, bisa pula mengingatkan adanya hal-hal yang harus dibenahi dan dihindari. Wendy menyebut media itu green apple map (GAM) - meminjam julukan Kota New York, Big Apple.

Dari sinilah roh peta yang bisa menghadirkan suasana "tiga dimensi" ditiupkan. Green map (peta hijau) - begitu sebutan populer peta itu - kemudian dikembangkan dengan dua tujuan utama. Pertama, menciptakan cara pandang baru bagi warga kota untuk menemukan cara jitu menikmati hidup di perkotaan. Kedua, memandu wisatawan - terutama yang berjiwa petualang - ke tempat-tempat istimewa bernuansa hijau yang bisa mereka rasakan hingga ingin menirunya di tempat tinggal mereka sendiri.

Selain bisa menandai kekayaan flora dan fauna suatu tempat, panduan semacam peta hijau bisa pula jadikan sarana untuk menumbuhkan budaya tertib. Kyoto, misalnya, membangun jalur khusus sepeda dan menerbitkan peta jalur khusus plus saran bersepeda yang baik. Misalnya, jangan berjajar tapi beriringan untuk memberi kesempatan pengendara lain yang mungkin sedang terburu-buru.

 
2  3  4  5 
Cetak artikel    Kirim ke teman   Penilaian Anda
 
Asyiknya Terbang Meniru Elang
Atasi Anemia dengan Kacang Hijau
Cermat Memilih Perangkat Kerja
Derita di Balik Tas Punggung
Ha Ha Ha ... Sembuhlah Sakit Kepala
Hidup Nyeni di Alam Maya
Mandi Sauna Berkeringat Sehat
Pantang Tidur di Atas Kasur
Sampah Antariksa Bukan Armageddon
Terbebas dari Narkoba dengan Logika
Warisan Kasih dari Diana
 
BUKU BARU!
The Art of Successful Parenting
Beredar 7 November 2007
Harga Rp. 32500