Thuk! Wendy Brawer, warga negara AS yang sedang jalan-jalan
di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta, tahun 1989, nyaris
kena lemparan kerikil. Yang menimpuk bukan siapa-siapa, melainkan
seekor orangutan. Alih-alih takut dan marah, justru bunyi timpukan
itu melentingkan ilham di kepala Wendy untuk membuat suatu media
yang memberi informasi detail soal kondisi suatu wilayah kepada
pembacanya. Idenya makin mengental sampai Desember 1991, menjelang
Earth Summit di markas besar PBB di New York.
Ia berharap, ratusan peserta konferensi, ahli lingkungan dari
seluruh dunia, yang mungkin baru pertama kali atau sekali-kalinya
ke New York, bisa ikut merasakan perkembangan lingkungan New York
melalui media yang digagasnya. Media itu bisa memberi tahu "di
mana kita sekarang" serta bisa menjawab pertanyaan "ke mana kita
dapat pergi" dengan beberapa pilihan. Dari media tadi juga bisa
ditunjukkan jalur jalan, tempat-tempat menyenangkan dan bermanfaat.
Sebaliknya, bisa pula mengingatkan adanya hal-hal yang harus dibenahi
dan dihindari. Wendy menyebut media itu green apple map
(GAM) - meminjam julukan Kota New York, Big Apple.
Dari sinilah roh peta yang bisa menghadirkan suasana "tiga dimensi"
ditiupkan. Green map (peta hijau) - begitu sebutan populer
peta itu - kemudian dikembangkan dengan dua tujuan utama. Pertama,
menciptakan cara pandang baru bagi warga kota untuk menemukan
cara jitu menikmati hidup di perkotaan. Kedua, memandu wisatawan
- terutama yang berjiwa petualang - ke tempat-tempat istimewa
bernuansa hijau yang bisa mereka rasakan hingga ingin menirunya
di tempat tinggal mereka sendiri.
Selain bisa menandai kekayaan flora dan fauna suatu tempat, panduan
semacam peta hijau bisa pula jadikan sarana untuk menumbuhkan
budaya tertib. Kyoto, misalnya, membangun jalur khusus sepeda
dan menerbitkan peta jalur khusus plus saran bersepeda yang baik.
Misalnya, jangan berjajar tapi beriringan untuk memberi kesempatan
pengendara lain yang mungkin sedang terburu-buru.