Cairkan semut
"Awalnya, karena saya sering digigit semut, Pak," jelasnya jenaka
saat presentasi, yang kontan disambut tawa peserta presentasi.
"Ini memang penemuan aneh, tapi langka," imbuhnya tak kalah lucu.
Meski suka ceplas-ceplos, ketika menjelaskan teknik membuat bonsai
kelapa dan kelapa bercabang, Suyatno bisa berubah menjadi sangat
serius.
Membuat bonsai kelapa "biasa", dimulai dengan memapras ujung
kelapa pakai gergaji atau sabit. Lalu dibiarkan sekitar sebulan,
sembari disiram dua kali sehari. Setelah tunas kelapa kelihatan,
masukkan kelapa dalam kaleng yang bagian bawahnya telah diisi
batu kerikil, pasir, tanah berhumus, dan tanah biasa. Selama tiga
bulan, kelapa dirawat dan dibentuk dengan proses pemotongan atau
pemangkasan. Pada usia enam bulan, umumnya bonsai sudah "terbentuk".
"Sebaiknya, tunggu sampai delapan bulan sebelum memindahkannya
ke tempat permanen," saran Suyatno.
Namun, yang paling menarik tentu saja keberhasilan pria yang
tahun 1996/1997 pernah mengikuti "Pendidikan Petani Ikan, Petani
Tambak dan Nelayan" ini membuat bonsai kelapa bercabang. Persiapan
awalnya mulai pemaprasan awal hingga penempatan kelapa di dalam
kaleng, sama persis seperti membuat bonsai biasa. Bedanya, setelah
masuk kaleng, tunas kelapa disiram pakai sari zat semut (SZN).
Tiga hari sekali, selama lebih kurang sebulan, calon bonsai diberi
SZN hingga merata.
SZN dianggap meresap jika terjadi perubahan dalam pertumbuhan
bonsai kelapa. "Pertumbuhannya jadi jelek, tidak teratur atau
tidak sewajarnya," ulas Suyatno. Biasanya, semua tunas akan terbungkus
rapat oleh serabut. "Biarkan selama sekitar satu bulan," sambung
pria yang mengaku sangat menikmati kunjungannya ke Jakarta, sebagai
finalis Intisari Award 2003 itu. Kemudian tunas kelapa mulai dibersihkan
pakai pisau kecil atau cutter. Sampai di sini, kalau prosesnya
berjalan lancar dan dengan prosedur benar, biasanya tunas-tunas
cabang akan mulai kelihatan.