E-MAIL
KATA KUNCI


DAFTAR
 
 
SUARA MILIS  |  JAJAK PENDAPAT  |  KONSULTASI |  FORUM |  ARSIP  |  BUKU TAMU  |  REDAKSI
 
majalah
No. 487 TH. XLI
FEBRUARI 2004
     
MENDAYUNG KANO DALAM
"KEGELAPAN"

Keterbatasan penglihatan tak mengalangi keinginan kaum tunanetra untuk ber-outward bound. Mendayung kano, meniti tali di ketinggian 8 m, bahkan membuat rakit bambu dan menaikinya melintasi waduk, semua dilakukan dengan berani. Inilah pengalaman sepuluh penyandang cacat netra dari Biro Tuna Netra Laetitia Yayasan Daya Dharma sewaktu diundang Outward Bound Indonesia (OBI), November 2003.

Tunanetra ikutan outward bound? Wah, bagaimana mereka akan melakukannya? Apalagi lokasi kegiatan itu di sekitar Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Alam berbukit-bukit, waduk luas dengan kedalaman hingga 150 meter, serta suhu udara menyengat di siang hari.

Oh, jangan mengecilkan dulu. Mereka ternyata mampu melakukannya seperti juga kita-kita yang bisa melihat. Bahkan, tawa gembira selalu menghiasi wajah anak-anak muda itu. Sesekali terdengar gurauan "khas" yang menggambarkan keakraban di antara mereka. "Maaf ya Mas, lampunya masih rusak nih, jadi gelap".

Mendengarnya, untuk sejenak, mungkin akan terbit rasa haru. Namun, perasaan itu segera pupus jika melihat semangat mereka selama mengikuti kegiatan tersebut. Ini terlihat sejak kegiatan lapangan pertama, yaitu personal breakthrough dengan "bermain di air".

Untuk menjaga keselamatan, setiap peserta maupun instruktur mengenakan pelampung dan helm. Di OBI, soal keselamatan hukumnya wajib.

Dalam posisi saling berpegangan, peserta digiring menuju ke air waduk. Terus berjalan, perlahan-lahan air mulai membenamkan tubuh mereka. Bisa dibayangkan betapa terkejutnya peserta, sewaktu kaki melangkah semakin jauh, tanah terasa semakin gembur, permukaan air kian tinggi. Gerakan sesama rekan di depan atau belakang membuat air bergoyang. Irama degup jantung pun berdegup makin cepat. Beberapa peserta tampak ragu, tetapi karena rekan-rekannya terus maju, tak ada pilihan selain mengikutinya. Mereka terus berjalan hingga air mencapai dada.

"Panik juga, tidak nyangka kalau sampai dalam," kata Sri Ambarwati (24) dengan wajah pucat. Tangannya tampak selalu memastikan keberadaan teman-teman serta pendamping di sisinya. Ia mengaku sedikit trauma karena pernah tenggelam saat naik perahu beberapa waktu sebelumnya.

Di sini peserta belajar keberanian terhadap air, yang jarang diakrabi penyandang tunanetra umumnya. Mereka merasakan sendiri bahwa kedalaman air tidak akan berbahaya jika memakai pengaman yang memadai.

"Mereka harus diyakinkan dulu bahwa pelampung dapat menahan tubuh mereka hingga tidak perlu takut tenggelam," jelas Djoko Kusumowidagdo, Executive Director OBI yang tampak selalu mendampingi peserta selama kegiatan.

Pengalaman semacam itu terbukti berguna karena pada kegiatan berikutnya peserta harus menaiki kano melintasi waduk. Setiap kano sepanjang 4 m diawaki dua orang. Lagi-lagi peserta tidak bisa membayangkan harus menjalankan kano sendiri.

Sebelum berkano, peserta mendapat pengarahan singkat cara menjalankannya, yaitu mendayung maju, belok kiri, belok kanan, serta mundur. Namun, rasanya akan tetap sulit dimengerti jika tidak langsung praktik. Peserta pun segera dituntun menaiki kano, kemudian didorong ke air. "Ayo, mulai mendayung!" kata Nuryaman, instruktur kegiatan. Perintah yang langsung membuat peserta gugup.

Mendayung kano, bagi orang yang belum berpengalaman memang tidak semudah yang dibayangkan. Tenaga sudah dikerahkan, tapi perahu tak kunjung melaju. Bahkan ada dayung yang tidak masuk ke air atau saling beradu dengan kano lain.

"Ayo, terus-terus," berkali-kali instruktur menyemangati. Tak lama peserta pun mulai terbiasa. Kano melaju perlahan, bahkan kemudian mampu mengikuti kano instruktur yang memberi panduan melalui peluit, beberapa puluh meter di depan. Tanpa terasa mereka menempuh 500 m dalam tempo hampir dua jam.

Baca juga:
Outbond Peduli Pada Orang Lain

 
2  3 
Cetak artikel    Kirim ke teman   Penilaian Anda
 
Hamengku Buwono X: Memimpin dengan Hati Rakyat
Balada Si Air Mata
Kamera Video, Kenali Sebelum Beli
Cerai ... Enggak, Cerai ... Enggak Ah!
Gotong Royong & Koperasi Gaya Amerika
Pesta Nikah, Kuda Dilarang Masuk
Mokele Mbembe, Monster dari Kongo
Arteri Kaku? Makanlah Agar-agar
Mereka "Mata Tambahan Pilot"
Hoki Anda Ada Di Wajah
 
BUKU BARU!
The Art of Successful Parenting
Beredar 7 November 2007
Harga Rp. 32500