Tunanetra ikutan outward bound? Wah, bagaimana mereka akan
melakukannya? Apalagi lokasi kegiatan itu di sekitar Waduk Jatiluhur,
Purwakarta, Jawa Barat. Alam berbukit-bukit, waduk luas dengan
kedalaman hingga 150 meter, serta suhu udara menyengat di siang
hari.
Oh, jangan mengecilkan dulu. Mereka ternyata mampu melakukannya
seperti juga kita-kita yang bisa melihat. Bahkan, tawa gembira
selalu menghiasi wajah anak-anak muda itu. Sesekali terdengar
gurauan "khas" yang menggambarkan keakraban di antara mereka.
"Maaf ya Mas, lampunya masih rusak nih, jadi gelap".
Mendengarnya, untuk sejenak, mungkin akan terbit rasa haru. Namun,
perasaan itu segera pupus jika melihat semangat mereka selama
mengikuti kegiatan tersebut. Ini terlihat sejak kegiatan lapangan
pertama, yaitu personal breakthrough dengan "bermain di
air".
Untuk menjaga keselamatan, setiap peserta maupun instruktur mengenakan
pelampung dan helm. Di OBI, soal keselamatan hukumnya wajib.
Dalam posisi saling berpegangan, peserta digiring menuju ke air
waduk. Terus berjalan, perlahan-lahan air mulai membenamkan tubuh
mereka. Bisa dibayangkan betapa terkejutnya peserta, sewaktu kaki
melangkah semakin jauh, tanah terasa semakin gembur, permukaan
air kian tinggi. Gerakan sesama rekan di depan atau belakang membuat
air bergoyang. Irama degup jantung pun berdegup makin cepat. Beberapa
peserta tampak ragu, tetapi karena rekan-rekannya terus maju,
tak ada pilihan selain mengikutinya. Mereka terus berjalan hingga
air mencapai dada.
"Panik juga, tidak nyangka kalau sampai dalam," kata Sri Ambarwati
(24) dengan wajah pucat. Tangannya tampak selalu memastikan keberadaan
teman-teman serta pendamping di sisinya. Ia mengaku sedikit trauma
karena pernah tenggelam saat naik perahu beberapa waktu sebelumnya.
Di sini peserta belajar keberanian terhadap air, yang jarang
diakrabi penyandang tunanetra umumnya. Mereka merasakan sendiri
bahwa kedalaman air tidak akan berbahaya jika memakai pengaman
yang memadai.
"Mereka harus diyakinkan dulu bahwa pelampung dapat menahan
tubuh mereka hingga tidak perlu takut tenggelam," jelas Djoko
Kusumowidagdo, Executive Director OBI yang tampak selalu
mendampingi peserta selama kegiatan.
Pengalaman semacam itu terbukti berguna karena pada kegiatan
berikutnya peserta harus menaiki kano melintasi waduk. Setiap
kano sepanjang 4 m diawaki dua orang. Lagi-lagi peserta tidak
bisa membayangkan harus menjalankan kano sendiri.
Sebelum berkano, peserta mendapat pengarahan singkat cara menjalankannya,
yaitu mendayung maju, belok kiri, belok kanan, serta mundur. Namun,
rasanya akan tetap sulit dimengerti jika tidak langsung praktik.
Peserta pun segera dituntun menaiki kano, kemudian didorong ke
air. "Ayo, mulai mendayung!" kata Nuryaman, instruktur kegiatan.
Perintah yang langsung membuat peserta gugup.
Mendayung kano, bagi orang yang belum berpengalaman memang tidak
semudah yang dibayangkan. Tenaga sudah dikerahkan, tapi perahu
tak kunjung melaju. Bahkan ada dayung yang tidak masuk ke air
atau saling beradu dengan kano lain.
"Ayo, terus-terus," berkali-kali instruktur menyemangati. Tak
lama peserta pun mulai terbiasa. Kano melaju perlahan, bahkan
kemudian mampu mengikuti kano instruktur yang memberi panduan
melalui peluit, beberapa puluh meter di depan. Tanpa terasa mereka
menempuh 500 m dalam tempo hampir dua jam.
Baca juga:
Outbond Peduli Pada Orang Lain