Penulis: Ninok Leksono, pemerhati dan penikmat musik klasik, di Jakarta
Itulah jawaban Wolfgang Amadeus Mozart (1756 - 1791) atas anggapan
orang bahwa karena ia jenius, lalu musik tercipta begitu saja.
Ternyata, musik Mozart yang elok itu juga hasil kerja keras dan
pendalaman atas musik yang berkembang. Karya-karyanya telah memperkaya
khasanah musik dunia, memberi rasa nyaman - tidak saja di telinga
tetapi juga bagi jiwa - manakala mendengarnya. Mendengar musik
Mozart serasa ada keajaiban yang menyertainya.
Pendengar awam mungkin secara spontan akan nyeletuk, "Kok
bisa Mozart mengarang musik seperti itu?" Mereka yang lebih tahu
musik menyimak, bagaimana nada, melodi, dan harmoni ditata, lalu
bagaimana ia diarahkan ke satu tujuan, dan akhirnya, bagaimana
musik itu tiba di sana.
Seperti diulas Joseph Machlis dalam The Enjoyment of Music
(edisi ke-6, 1990), keelokan bunyi dan kesempurnaan gaya, kepedihan
dan keagungan musik Mozart, tampaknya tak mengikuti analisis dan
penjelasan mana pun. Jadi, untuk satu momen dalam sejarah musik,
semua hal yang bertentangan tadi rujuk, dan semua ketegangan teredakan.
Momen yang mencerahkan ini adalah Mozart.
Baca juga
Tahun Ini, 250 Tahun Yang Lalu