KEKUATAN SEDEKAH YUSUF MANSUR
Di mata orang biasa, sedekah hanya "layak"
dikeluarkan jika isi dompet sedang tebal atau sebatas uang recehan.
Kalau otak lagi mumet mikirin utang, "Jangankan sedekah,
makan aja susah," protes mereka seirama. Makanya, aneh bin ajaib,
ketika Yusuf Mansur - ustad muda yang akhir-akhir ini rajin muncul
di layar gelas - menganjurkan lebih banyak sedekah justru di saat
hidup sedang susah.
Penulis: Muhammad Sulhi
Yusuf Mansur duduk bersila di kerumunan ratusan karyawan sebuah
perusahaan. "Ustad, kali ini saya ingin tema tausiyahnya tidak
tentang sedekah," pinta seorang panitia, yang juga salah satu
petinggi perusahaan. Rupanya, panitia itu hendak berempati kepada
karyawannya. Seperti negeri ini yang sering dirundung duka, perusahaannya
juga sedang "KD" (kurang darah). Menurut si panitia, khalayak
yang hadir sebagian besar buruh, seharusnya diberi sedekah, bukan
dianjurkan bersedekah.
Yusuf Mansur - pemilik pondok pesantren Daarul Qur'an, Ciledug,
Tangerang - keruan berang. Sedekah kok diidentikkan dengan status
sosial ekonomi. Orang miskin yang ingin kaya juga harus sedekah.
"Guru ngaji saya bilang, kalau habis gajian bersedekah, atau orang
yang bisnisnya gol bersedekah, itu sih biasa. Tapi sedekah sebelum
gajian, saat punya sedikit duit, atau sebelum memulai usaha, itu
baru istimewa," sang ustad meradang.
Ia menambahkan, materi yang bisa disedekahkan tidak harus berwujud
uang. "Bisa pakaian, makanan. Atau kalau di rumah ada teve berukuran
29 inci, 'kan masih bisa 'dikecilin' jadi 14 inci?" sambung
pria kelahiran Jakarta, 19 Desember 1976 ini. Jadi, tidak ada
yang tidak dapat disedekahkan oleh orang termiskin di dunia sekalipun,
sepanjang niat bersedekah itu ada.
Baca juga
Matematika
Sampai Mentok