Lebih menyerang wanita
Osteoartritis merupakan salah satu jenis rematik. Inilah yang
orang awam tidak tahu. Di kalangan awam, rematik sudah menjadi
nama generik untuk menggambarkan rasa sakit di tulang. Padahal,
"Rematik itu jenisnya banyak. Ada seratusan lebih," kata Prof.
dr. Zuljasri Albar, Sp.PD-KR, ahli reumatologi dari FKUI. Osteoartritis
bermula dari kelainan pada tulang rawan sendi. Selanjutnya, semua
struktur yang membentuk sendi misalnya tulang, otot, tendo, dan
ligamen dapat terkena.
Dalam taraf ringan, sendi baru akan terasa sakit saat dipakai
beraktivitas berat. Misalnya saat mengangkat beban berat atau
naik turun tangga. Akan tetapi, ketika sudah parah, hanya untuk
melakukan aktivitas ringan, seperti jalan kaki, sendi sudah terasa
sakit. Bahkan, jika sudah kelewat parah, saat duduk atau tidur
pun sendi terasa nyeri.
Sendi yang biasanya menjadi korban osteoartritis adalah sendi
yang memikul berat badan, misalnya sendi lutut. Dengkul. Maklum
saja, lutut merupakan sendi yang paling banyak menerima tekanan
beban. Sendi lain yang juga bisa terkena osteoartritis misalnya
sendi di tulang belakang, sendi panggul, pergelangan kaki, dan
pangkal ibu jari kaki.
Hingga sekarang penyebab pasti penyakit ini masih terus diteliti.
Meski begitu, para ahli reumatologi sudah mengenali faktor-faktor
risikonya. Lah, apa beda penyebab dan faktor risiko? Faktor risiko
adalah istilah medis untuk menggambarkan kemungkinan penyebab.
Jika faktor ini ada pada sesorang, ia punya kemungkinan lebih
tinggi terkena osteoartritis.
Di antara faktor risiko yang sudah dikenali, salah satunya,
kegemukan. Ya, lagi-lagi kegemukan. Ini memang faktor yang cukup
besar pengaruhnya. Pada orang gemuk, tulang-tulang sendi harus
menanggung beban yang lebih berat. Tekanan akibat berat badan
yang terus-menerus ini menyebabkan lapisan tulang rawan sendi
lebih cepat aus.
Namun bukan berarti orang kurus atau yang berat badannya ideal
boleh meremehkan penyakit ini. Kegemukan hanya salah satu faktor
risiko. Faktor lainnya yang tak boleh dilupakan adalah aktivitas
sendi yang berlebihan. Faktor kedua ini sebetulnya masih punya
kesamaan dengan kegemukan. Persamaannya terletak pada beban sendi.
Tekanan pada sendi tak cuma karena berat badan. Aktivitas yang
berlebihan pun dapat menekan sendi, terutama aktivitas yang berhubungan
dengan kerja sendi. Contohnya, mengangkat beban berat pada atlet
atau mereka yang pekerjaannya mengangkat beban. Bisa juga terjadi
pada mereka yang biasa naik turun gunung. Beban dari aktivitas
inilah yang akan memberi tekanan pada tulang rawan sendi dan menyebabkannya
mudah aus.
Tentu saja tidak semua jenis aktivitas bisa meningkatkan risiko
osteoartritis. Hanya aktivitas yang memberi beban berat pada sendi.
Olahraga biasa, misalnya main futsal, bulutangkis, joging, atau
bersepeda, tidak masuk ke dalam kategori ini. Jadi, saran Zuljasri,
kita tak perlu menghentikan kebiasaan olahraga hanya karena takut
kena osteoartritis. Selain masalah kerja sendi, diabetes juga
termasuk salah satu faktor yang meningkatkan risiko osteoartritis.
Faktor risiko lainnya adalah umur. Semakin tua seseorang, risiko
terkena osteoartritis juga semakin besar. Karena itu penyakit
ini biasanya dijumpai pada orang-orang di usia sekitar 50-an tahun.
Ini merupakan faktor yang tidak bisa kita kendalikan. Berbeda
dengan dua faktor pertama (kegemukan dan aktivitas) yang masih
bisa dikendalikan. Berat badan yang berlebihan bisa diturunkan,
aktivitas yang kelewat berat bisa dikurangi. Tapi umur, siapa
yang bisa melawan?
Selain umur, faktor risiko lain yang tidak bisa dikendalikan
yaitu jenis kelamin. Ini memang kabar tidak menyenangkan buat
kaum perempuan. Jenis kelamin ini punya kemungkinan lebih besar
terkena osteoartritis daripada laki-laki. Belum diketahui dengan
jelas kenapa demikian, tapi diduga karena faktor hormon estrogen,
yang memegang peranan penting di tubuh kaum Hawa.
Baca juga
Bisa Menyerang Kaum Muda Juga Lo!