Penulis : A. Bimo Wijoseno
Seorang petembak tampak telah siap dengan pistol di tangan dan
tiga buah magasen penuh berisi peluru tertancap di holster (semacam
ikat pinggang). Lengkap dengan kaca mata hitam untuk mengalau
silau dan penutup telinga agar tak pekak karena suara letusan
tembakan. Di belakangnya seorang timer atau pencatat waktu lantang
berteriak, "Ok, Ready…, shoot!... dar…dar…dar!!!" Bunyi
letusan pistol terus bergulir dari sasaran satu ke sasaran berikutnya.
Sang petembak, sambil berlari menuju sasaran lain, dengan sangat
cekatan mengganti magasen peluru dan langsung menembak lagi target,
dar ... dar…dar! Hingga akhirnya, satu stage diselesaikan,
tiga magasen yang masing-masing berisi seratusan peluru habis
ditembakkan.
Suasananya seperti sedang ada penyerbuan sungguhan. Seru dan
menegangkan. Dalam pertandingan tembak reaksi biasanya digunakan
simulasi atau stage seperti pada situasi sesungguhnya.
Misalnya mengamankan dokumen atau membebaskan sandera. Meskipun
menggunakan senjata api, tembak reaksi ini olahraga sipil. Karena
sasaran atau target tidak ada yang berbentuk seperti manusia.
Target tembakan berupa bidang berbentuk heksagonal atau segi enam
dari besi atau kertas.
Jika salah tembak, luput dari sasaran atau pelurunya nyasar,
nilai akan dikurangi. Yang menarik, meskipun berondongan peluru
meletus tak henti-hentinya, pistolnya bukan jenis otomatis. Ketika
tidak sedang menembak pun, jari telunjuk petembak yang ada di
trigger harus selalu berada di luar. "Karena kita selalu
menekankan keamanan. Olahraga ini menggunakan senjata api dan
peluru tajam, kalau ketahuan melanggar aturan ini nilainya akan
dikurangi," jelas Benny GR Sutanandika (51), ketua bidang tembak
reaksi Pengda Perbakin DKI Jaya.
Menilik sedikit ke belakang, olahraga tembak reaksi ini, ungkap
Benny, mulai diperkenalkan pertama kali di Indonesia tahun 1997
oleh Bambang Trihatmodjo. Dan pada 24 Oktober 1997 kegiatan olahraga
tembak reaksi di Indonesia diakui dan tercatat di International
Practical Shooting Confederation (IPSC), organisasi internasional
olahraga tembak reaksi, saat organisasi ini mengadakan konferensi
di Venezuela. Selanjutnya di tahun 2000 olahraga tembak reaksi
ini dikukuhkan menjadi bagian dari Persatuan Olahraga Menembak
Indonesia (Perbakin).
Baca juga
Pilih Senjata Tentukan Kelas