E-MAIL
KATA KUNCI


DAFTAR
 
 
SUARA MILIS  |  JAJAK PENDAPAT  |  KONSULTASI |  FORUM |  ARSIP  |  BUKU TAMU  |  REDAKSI
 
majalah
No. 532 TH. XLIV
NOVEMBER 2007
     

SUCIWATI: CINTA MUNIR UNTUK KEBENARAN


"Saya pernah jatuh cinta pada gadis yang secara rasional enggak mungkin saya dapat bertemu dia, karena latar belakang yang sama sekali berbeda. Kini, dia jadi istri tercinta dan kekuatan bagi kehidupan saya, yang jauh lebih kuat dibanding jatuh bangun belajar ilmu pengetahuan atau lainnya.

"MUNIR tentang SUCIWATI, dituturkan lewat e-mail, 17 November 2001 pada arsitek Meutia Chairani, kini menantu Indi Soemardjan, cucu sosiolog Selo Soemardjan.


Penulis : Christantiowati

Munir Said Thalib, pekerja Hak Asasi Manusia (HAM), bicara cinta? Tak perlu heran. Pria yang tewas pada 7 September 2004 di pesawat Garuda Indonesia yang tengah melintasi Hungaria, tiga jam sebelum tiba di Amsterdam, itu diduga diracun arsenik. Pangkal solidaritas kemanusiaan Munir, yang tak bisa dipisahkan dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), adalah cinta. Bukankah menemukan orang yang hilang adalah memaknai keutuhan manusia, keutuhan keluarga? Atas nama cinta.

Saat coba menegakkan kebenaran, cinta muncul, mengantarnya pada Suciwati. Benih-benih cinta itu subur di lahan cita-cita dan kebenaran. Bersinergi bulat utuh. Hal ini kian jelas ketika Munir pergi selamanya. Hiruk-pikuk ketika ia hidup berlanjut hiruk-pikuk mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab atas kematiannya di usia jelang 39.

"Peradilannya yang berbelit-belit membuktikan, kita belum bergeser. Sistem dan pelanggar HAM masih sama. Setelah reformasi, demokrasi memang ada dalam bentuk kebebasan pers dan pemilu presiden langsung. Tapi korban pelanggaran HAM tetap belum menerima haknya," tutur Suciwati (39), lembut. "Tiap Kamis pukul 16.00 -17.00 kami berdemo damai di depan Istana Merdeka. Ini dilakukan sejak Desember 2006, dan sampai Oktober 2007 telah mencapai minggu ke-38. Untuk menghalau lupa, bahwa demokrasi dan HAM mesti ditegakkan."

Bila Munir mengingatkan kita pada orang-orang berpandangan jauh ke depan seperti Soe Hok Gie yang tewas di akhir 1960-an dan Achmad Wahib pada kecelakaan lalu-lintas di awal 1970-an, Suciwati mengingatkan pada Corazon Aquino, Wan Azizah, Benazir Bhutto, Megawati Sukarnoputri, Aung San Suu Kyi.

"Saya bukan Corry, Benazir, atau Megawati. Mereka jadi politisi meneruskan karier politik suami atau ayah yang terhenti karena terbunuh atau dibiarkan mati pelan-pelan. Saya dan Munir pekerja HAM," tegas Suci, lulusan IKIP Malang yang sempat menjadi buruh dan Koordinator Kelompok Buruh Malang, 1990-91. "Tapi saya mengagumi Aung San Suu Kyi. Walau anak mantan penguasa Myanmar, ia benar-benar berani dan pantang menyerah. Saya juga mengagumi Mahatma Gandhi. Saya tak mengagumi Sukarno karena ia berpoligami, memberlakukan demokrasi terpimpin, dan mendaulat diri presiden seumur hidup."

Baca juga

Sosok Nan "Abadi"
Fakta Seputar Munir

 
2  3 
Cetak artikel    Kirim ke teman   Penilaian Anda
-

 

 

 
Pesta Tertunda Lewis Hamilton
Kegemukan Bikin Shock Absorber Tubuh Rusak
Gigi Sehat Berkat Permen Karet
Rahasia Sehat Keluarga Keraton
Tembak Reaksi Bukan Untuk Orang Kagetan
Wayang Basah-basahan dari Vietnam
Catatan Harian Penakluk Himalaya
Dwi Koen, Humor Yang Menggugat, Panji Koming Semula...
HDTV Gambarnya Tajem Bener
Berantas Virus Negativitas di Kantor
 
BUKU BARU!
The Art of Successful Parenting
Beredar 7 November 2007
Harga Rp. 32500