SUCIWATI: CINTA MUNIR UNTUK KEBENARAN
"Saya pernah jatuh cinta pada gadis yang secara
rasional enggak mungkin saya dapat bertemu dia, karena latar belakang
yang sama sekali berbeda. Kini, dia jadi istri tercinta dan kekuatan
bagi kehidupan saya, yang jauh lebih kuat dibanding jatuh bangun
belajar ilmu pengetahuan atau lainnya.
"MUNIR tentang SUCIWATI, dituturkan lewat
e-mail, 17 November 2001 pada arsitek Meutia Chairani, kini menantu
Indi Soemardjan, cucu sosiolog Selo Soemardjan.
Penulis : Christantiowati
Munir Said Thalib, pekerja Hak Asasi Manusia (HAM), bicara cinta?
Tak perlu heran. Pria yang tewas pada 7 September 2004 di pesawat
Garuda Indonesia yang tengah melintasi Hungaria, tiga jam sebelum
tiba di Amsterdam, itu diduga diracun arsenik. Pangkal solidaritas
kemanusiaan Munir, yang tak bisa dipisahkan dari Komisi Untuk
Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), adalah cinta.
Bukankah menemukan orang yang hilang adalah memaknai keutuhan
manusia, keutuhan keluarga? Atas nama cinta.
Saat coba menegakkan kebenaran, cinta muncul, mengantarnya pada
Suciwati. Benih-benih cinta itu subur di lahan cita-cita dan kebenaran.
Bersinergi bulat utuh. Hal ini kian jelas ketika Munir pergi selamanya.
Hiruk-pikuk ketika ia hidup berlanjut hiruk-pikuk mempertanyakan
siapa yang bertanggung jawab atas kematiannya di usia jelang 39.
"Peradilannya yang berbelit-belit membuktikan, kita belum bergeser.
Sistem dan pelanggar HAM masih sama. Setelah reformasi, demokrasi
memang ada dalam bentuk kebebasan pers dan pemilu presiden langsung.
Tapi korban pelanggaran HAM tetap belum menerima haknya," tutur
Suciwati (39), lembut. "Tiap Kamis pukul 16.00 -17.00 kami berdemo
damai di depan Istana Merdeka. Ini dilakukan sejak Desember 2006,
dan sampai Oktober 2007 telah mencapai minggu ke-38. Untuk menghalau
lupa, bahwa demokrasi dan HAM mesti ditegakkan."
Bila Munir mengingatkan kita pada orang-orang berpandangan jauh
ke depan seperti Soe Hok Gie yang tewas di akhir 1960-an dan Achmad
Wahib pada kecelakaan lalu-lintas di awal 1970-an, Suciwati mengingatkan
pada Corazon Aquino, Wan Azizah, Benazir Bhutto, Megawati Sukarnoputri,
Aung San Suu Kyi.
"Saya bukan Corry, Benazir, atau Megawati. Mereka jadi politisi
meneruskan karier politik suami atau ayah yang terhenti karena
terbunuh atau dibiarkan mati pelan-pelan. Saya dan Munir pekerja
HAM," tegas Suci, lulusan IKIP Malang yang sempat menjadi buruh
dan Koordinator Kelompok Buruh Malang, 1990-91. "Tapi saya mengagumi
Aung San Suu Kyi. Walau anak mantan penguasa Myanmar, ia benar-benar
berani dan pantang menyerah. Saya juga mengagumi Mahatma Gandhi.
Saya tak mengagumi Sukarno karena ia berpoligami, memberlakukan
demokrasi terpimpin, dan mendaulat diri presiden seumur hidup."
Baca juga
Sosok Nan "Abadi"
Fakta Seputar Munir