CATATAN HARIAN PENAKLUK HIMALAYA:
(Bagian Pertama Dari Dua Tulisan)
Haru biru menyergap relung kalbu di pagi itu, Jumat 27 Oktober 2006. Dari jendela Boeing 747 Thai Airways, saya bisa melihat deretan pegunungan tinggi berselaput salju yang berbaris seakan tak berujung. Dalam sebulan ke depan, kami ber-21 - tergabung dalam Everest BC 2006 (EBC 2006) Mahitala Universitas Parahiyangan - akan mengembara di salah satu celah Pegunungan Himalaya. Sesuatu yang menjadi obsesi dan mimpi saya selama 30 tahun.
Penulis : Budi Hartono Purnomo, di Jakarta
Tak terasa, pesawat mendarat di bandara di Kathmandu, Nepal,
pukul 10.30 waktu setempat (lebih dulu 1 jam 15 menit dibanding
Jakarta). Di bandara, kami dijemput Mr. Nava dari First Environmental
Trekking Pte. Ltd dan beberapa rekan dari kelompok terbang (kloter)
1. Kloter 1 berangkat lebih awal, Senin 23 Oktober 2006 dari San
Diego (Amerika Serikat), beranggotakan Ambrin Siregar, Hasan Sunardi,
Chandra Heru, George, Susanto, SieLing, Syamsuliarto, Irsan, Irma
dan Suhanto. Sedangkan kloter 2 berangkat Kamis 26 Oktober 2006,
terdiri atas Sani Handoko, Milug, Didiet, Lily Nababan, Olin,
Chaca, Mario, Ian, Hani, Tisi, dan saya sendiri.
Suasana petualangan sudah terasa ketika kaki menjejak bandara,
yang dipenuhi turis back packer. Kathmandu yang berdebu
dan bising juga tempat yang jamak untuk menemukan sapi berdiri
santai di lampu merah perempatan jalan. Binatang yang satu ini
memang punya "hak istimewa".
Toko-toko banyak menjual suvenir dan perlengkapan pendakian
gunung, kain sutera, kerajinan tangan, dan pisau "kukrie" yang
melegenda karena menjadi senjata andalan tentara Gurkha, satuan
khusus tentara Kerajaan Inggris Raya yang terkenal itu. Jumat
27 Oktober 2006, kami mulai beradaptasi dengan udara sejuk Kathmandu
dan ingar-bingar ucapan khas bahasa Nepali. Besok pukul 05.00
perjalanan sebenarnya akan dimulai, terbang ke Lukla (2.840 m),
lalu berjalan kaki untuk mencapai Kallapatthar.