DWI KOEN, HUMOR YANG MENGGUGAT, PANJI KOMING SEMULA HANYA SAMBILAN:
DUNIA PARA KARTUNIS (6)
Apakah sumbangan seorang kartunis itu hanya dagelan? Sebetulnya, meski kelihatannya hanya untuk memancing tawa, kartun yang manapun, sekadar humor maupun karikatur politik, memiliki dimensi serius. Bukan sekadar karena dalam teks apapun terdapat konotasi ideologis, tetapi juga karena pada setiap gelak tawa yang kita acukan kepada wacana tertentu, terdapat peluang untuk ditafsirkan sebagai pelecehan. Padahal, terhadap pelecehan, siapapun bisa menjadi sensitif. Humor ternyata potensial dalam mengundang bahaya!
Penulis & Fotografer : Seno Gumira Ajidarma
Sekali lagi, ini berarti profesi seorang kartunis sebetulnya
merupakan profesi riskan, yang juga berarti harus dihargai lebih
dari sekadar tukang melucu. Apalagi jika seorang kartunis memang
telah memilih untuk tidak sekadar melucu, melainkan juga bersikap
kritis. Nah, kritis kepada siapa? Selain kepada penguasa, yakni
pemerintah yang mewakili negara; juga kepada masyarakat, yang
boleh dianggap mewakili bangsa. Jika sikap kritis terhadap negara
dan bangsa itu disetujui merupakan kontribusi sosial, tentunya
sumbangan seorang kartunis bukan hanya dagelan.
Salah seorang kartunis yang karyanya dianggap penting dalam penyadaran
sosial dan politik, sehingga sering menjadi bahan penelitian ilmiah
dalam bidang ilmu-ilmu humaniora adalah Dwi Koendoro Brotoatmodjo,
yang lebih populer sebagai Dwi Koen sahaja. Ini tentu berhubungan
dengan dua hal: Pertama, bahwa karyanya bukan hanya dikenal sebagai
kritis, melainkan juga keras; kedua, bahwa kartun seri Panji
Koming tersebut dimuat harian Kompas yang merupakan koran
dengan oplah besar, yang terutama memang beredar di kalangan kelas
menengah, yang juga diandaikan sebagai kritis. Ini membuat Panji
Koming bagaikan ikan yang mendapatkan kolamnya.